1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 1.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Oleh : Fitria Sarmida, S.Pd.


        Belajar di kelas duduk diam dan mendengarkan ceramah dari guru, tidak boleh menyanggah apa yang guru jelaskan dan sering kali siswa enggan untuk bertanya. Ketika siswa suka berbicara di kelas, mencari perhatian dengan tingkah laku dan kata sering kali akan dicap sebagai siswa yang nakal. Jika ada hasil pekerjaan atau tugas siswa yang tidak sama dengan apa yang guru jelaskan akan langsung disalahkan. Tidak jarang siswa bahkan orangtua siswa menyayangkan akan hal ini, harus sesuai dengan apa yang diminta guru. Sering sekali kita membandingkan kemampuan anak, membandingkan si A dengan si B bahwa si C lebih pandai dari si B. Kemampuan mereka diukur dengan angka - angka yang tertera di rapot dan kepintaran didasarkan pada peringkat kelas yang mereka capai. Ketika mengajar seringkali guru menyeragamkan kemampuan mereka tanpa melihat potensi, bakat yang berada dalam diri anak - anak. Guru ingin membentuk anak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tidak dikatakan berbakat, pintar, dan sebagainya jika tidak pandai dalam bidang matematika atau ilmu alam lainnya. Hingga ujian di ujung semester biasanya menjadi penentu kehidupan seseorang. Ini lah potret pendidikan yang dulu dan masih sering membayang - bayangi pendidikan di masa sekarang ini.

        Sejauh yang saya pernah alami terdapat kesenjangan antara siswa pintar dengan yang dianggap tidak pintar hanya karena kemampuan ilmu eksahnya. Kebanyakan tutup mata terhadap bakat yang siswa miliki seperti berbicara, berpuisi, bernyanyi, rasa ingin tahu yang tinggi, olah raga dan sebagainya. Siswa yang dianggap baik adalah siswa yang mengiyakan segala yang disuruh oleh gurunya. Benar to?? Tidak jarang kita melihat siswa yang takut salah, takut berbicara, takut bertanya, hingga takut untuk berekspresi. Termasuk saya sendiri ketika masih menjadi seorang siswa. Apakah ini potret pendidikan yang kita cita - citakan?

        Dalam UU No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 menegaskan bahwa: "Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab". Jika diamati terkait tujuan pendidikan secara nasional, maka ada 3 aspek yang ingin dicapai yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun apakah tepat cara kita untuk mencapai tujuan pendidikan itu? 

        Ki Hajar Dewantara adalah bapak Pendidikan Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia di bidang Pendidikan. Bahkan tanggal lahir beliau ditetapkan sebagai hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei dan ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan nasional. Awalnya beliau aktif menulis tentang politik, namun setelah kepulangannya dari Belanda beliau mencurahkan perhatiannya kepada Pendidikan yang bercorak nasional. Beliau menyadari bahwa Pendidikan dapat digunakan sebagai bagian alat perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan.

        Ki Hajar Dewantara (KHD) memiliki konsep pemikiran mengenai pendidikan yang sampai sekarang dijadikan acuan dalam pendidikan di Indonesia. Berikut konsep pemikiran pendidikan menurut KHD:

  1. Pendidikan itu "menuntun" anak sesuai kodratnya. Kodrat seorang anak antara lain kodrat alam dan kodrat zaman.
  2. "guru merupakan petani kehidupan" yang membangun tumbuh kembang anak - anak tanpa berusaha mengubahkan dan keluar dari kodrat anak sendiri. 
  3. pendidikan yang berprinsip asah asih dan asuh yang sesuai dengan budaya kita
  4. pendidikan hrus berpihak pada anak (berpusat pada anak)
  5. bermain merupakan salah satu kodrat anak, sehingga permainan dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah
  6. anak - anak terlahir dengan kodrat yang masih samar - samar. Diibaratkan seperti kertas yang sudah ditulisi namun masih samar - samar. Sehingga tugas pendidikan menuntun anak untuk menebalkan garis - garis tersebut.
  7. Pendidikan berdasarkan budi pekerti
  8. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani

        Saya percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan bakat dalam diri mereka masing - masing yang berbeda - beda pada setiap anak. Sehingga kita tidak boleh menyamakan kemampuan mereka. Karena mereka berasal dari keluarga yang berbeda, latar belakang, budaya, ekonomi, sosial, pengajaran lingkungan, dsb mereka berbeda - beda. Karakter yang mereka miliki juga berbeda sekalipun pada anak yang kembar. Sehingga cara kita mendidik dan mengajar mereka pun sebaiknya ada perbedaan. 

        Walaupun saya memahami keberagaman siswa, namun saya masih memiliki kekurangan yang belum sepenuhnya bisa saya kendalikan. Jiwa pendidik saya masih bisa dikatakan sangat jauh dari filosofi KHD yang saya pelajari pada modul ini. Sehingga tidak jarang siswa kena marah, misalnya karena tidak mengerjakan tugas atau ketika sudah saya jelaskan mereka tidak mengerti. 

           Setelah mempelajari konsep pemikiran KHD pada modul ini, saya mulai belajar lebih lagi untuk memahami jiwa seorang pendidik yang senantiasa sabar dalam menuntun anak - anak didiknya dalam belajar. Mengendalikan emosi sehingga anak - anak menjadi lebih respek dan bisa lebih dekat dengan anak. Ketika mereka tidak mengerjakan tugas, saya berusaha berdialog mengenai kendala yang mereka hadapi ketika diberikan tugas. Saya lebih ingin mengenal setiap anak untuk mengetahui potensi yang mereka miliki. Sejauh ini saya masih menemukan satu anak untuk saya calonkan sebagai peserta olimpiade. Semoga selanjutnya saya mampu melihat bakat - bakat mereka di bidang lain.

        Pada pembelajaran yang pernah kami laksanakan, kami memilih karakter mandiri pada pembuatan kerangka pembelajaran yang sesuai dengan pemikiran KHD. Sehingga langkah - langkah yang kami lakukan antara lain dengan memberi tugas yang berkaitan dengan sifat kemandirian dan potensi lokal. Melaksanakan pembelajaran dengan berpusat pada siswa, dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

        Dari keseluruhan setelah mempelajari modul ini, ada semacam perubahan dalam proses berpikir saya bahwa memang anak - anak berbeda sesuai dengan kodratnya masing - masing. Sehingga kalau saya sebagai pendidik dikatakan "petani kehidupan" maka saya melihat siswa adalah tanaman saya yang sangat beragam, ada padi, jagung, cabai, sawi, kacang panjang, dsb yang tentunya saya juga harus mampu memberikan perawatan yang berbeda kepada setiap tanaman yang dimiliki sesuai kodratnya masing - masing, karena beda tanaman akan beda keperluannya. Tugas saya merawat, memelihara, memupuk, menjauhkan dari pengaruh buruk sehingga nantinya mereka dapat menghasilkan buah yang kelak berguna bagi mereka sendiri dan orang lain.

Komentar