Aksi Nyata "Budaya Positif" di Sekolah di SMP Negeri 1 Tanjungpandan
Penerapan Budaya Positif di Lingkungan Sekolah
oleh: Fitria Sarmida, S.Pd.
Calon Guru Penggerak Angkatan 4
Sebagai seorang pendidik perlu membangun dan mewujudkan budaya positif di sekolah untuk mencapai cita - cita pendidikan bangsa Indonesia. Budaya positif itu sendiri merupakan cara yang ditempuh supaya anak - anak didik kita memiliki nilai - nilai kebajikan maupun nilai - nilai universal. Budaya positif dimulai dari perubahan paradigma guru mengenai murid - murid, seperti:
1. Ilusi bahwa guru mengontrol murid
2. Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat
3. Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter
4. Ilusi bahwa orang dewasa berhak untuk memaksa.
Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid - murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri dan bertanggungjawab. Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah bentuk disiplin yang dijalankan selama ini di sekolah - sekolah kita. Konsep Budaya Positif terdiri dari perubahan paradigma stimulus respon lawan teori kontrol, disiplin dan motivasi perilaku manusia, keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol dan segitiga restitusi.
Di sekolah tempat saya mengajar, saya telah menerapkan konsep budaya positif kepada murid dan guru.
1. Keyakinan Kelas
Keyakinan kelas lebih baik dilakukan daripada sekedar peraturan, hal ini dikarenakan murid akan lebih baik melakukan apa yang mereka yakini daripada hanya sekedar mengikuti peraturan saja. Mereka menjalankan peraturan karena enggan dihukum atau hanya sebatas kewajiban saja, namun bila peraturan dihilangkan maka mereka akan kembali kepada kebiasaan - kebiasaan lama. Berbeda dengan keyakinan, dalam keyakinan terkandung nilai - nilai kebajikan ataupun prinsip -prinsip universal yang nantinya akan memotivasi murid dari dalam diri mereka sendiri atau disebut dengan motivasi intrinsik.
| Kegiatan menyepakati keyakinan kelas di kelas 7A |
2. Posisi Kontrol
Guru dalam menghadapi murid haruslah menerapkan posisi kontrol yang bertujuan untuk memandirikan dan memerdekakan murid. Menurut Gossen ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer. Dalam prakteknya saya menerapkan diri sebagai posisi Manajer dalam menghadapi murid saya yang pembagian rapotnya sempat tertunda karena tugasnya tidak selesai.
| Posisi Kontrol Manajer |
3. Segitiga Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh ketika mereka melakukan kesalahan, bukankah pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat memilih untuk belajar dari pengalaman dan membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.
Di sekolah saya telah menerapkan segitiga restitusi ini untuk membantu murid memecahkan masalah yang mereka hadapi.
4. Melakukan Pengimbasan Aksi Nyata Budaya Positif kepada Rekan Guru
Selain menerapkan budaya positif kepada murid, saya juga melakukan pengimbasan kepada rekan guru tentang pentingnya budaya positif. Saya melakukan pengimbasan ini pada selasa, 8 Februari 2022 di SMP Negeri 1 Tanjungpandan.
Demikianlah aksi nyata yang saya lakukan di SMP Negeri 1 Tanjungpandan, saya berharap budaya positif ini terus menerus dapat diimplementasikan agar secara perlahan-lahan dapat memberikan dampak yang positif pula bagi murid - murid maupun seluruh aspek di lingkungan sekolah.
Video aksi nyata yang kami laksanakan, bisa diakses melalui link berikut!
https://www.youtube.com/watch?v=GfF3nBIr7HM
https://www.youtube.com/watch?v=OCz6xQDicEk
Komentar
Posting Komentar