Koneksi Antar Materi Modul 2.1

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PEMBELAJARAN MASA KINI

Jika dulu belajar di sekolah adalah tentang mendapatkan pekerjaan bagus untuk hidup yang lebih baik. Belajar adalah untuk mendapatkan rangking yang bagus untuk menunjukkan bahwa kamu lebih hebat dari orang lain. Pandangan terhadap mereka yang tidak mampu mengikuti pembelajaran dan mendapatkan nilai rendah sangat negatif bahkan dianggap bodoh.

Namun belajar bukanlah seperti itu, bukan…

Belajarlah nak, selesaikan tanggungjawab dan kewajibanmu dengan kemampuan dan bakatmu. Kembangkan potensimu agar kelak menjadi anak yang terampil dalam kehidupan.

Ingatlah nak, belajar bukanlah sebuah persaingan untuk menjadi yang nomor 1. Bukan pula untuk menentukan bahwa kamu lebih hebat dari yang lain. Bukan pula supaya kamu kelihatan pintar.

 Belajar adalah tentang seni mengasah keterampilan berpikir, merasa, dan bertindak.

 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan hal baru yang saya pelajari, dan ini saya temukan di program guru penggerak (PGP) Angkatan 4. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan berorientasi pada kebutuhan murid sendiri. Dengan kata lain pembelajaran yang memperhatikan aspek – aspek yang sangat melekat pada murid itu sendiri yang menunjang anak secara pribadi. Baik itu aspek yang berasal dari dalam murid (intrinsik) maupun di luar murid sendiri (ekstrinsik). Sehingga memang benar – benar menerapkan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Menurut Tomlinson (2001:45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dengan kata lain pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan murid berdasarkan kesiapan belajar murid, minat, serta profil belajar murid.

Dalam penerapannya, langkah awal yang kita lakukan adalah melakukan pemetaan terhadap murid kita. Pemetaan ini dilakukan agar guru mengenal dan memahami karakteristik murid serta kebutuhan belajar mereka. Cara memetakan kebutuhan murid dapat dilakukan lewat 3 aspek, yaitu:

1.      Kesiapan belajar (readiness) merupakan kapasitas untuk mempelajari materi baru. Dalam hal ini dilakukan pemetaan terhadap keterampilan dan kemampuan dasar murid, apakah dia siap dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran, sampai dimana sudah kemampuannya. Sehingga dengan mengetahui tingkat kesiapannya, guru dapat merancang pembelajaan yang tepat yang mendukung murid dalam proses pembelajaran. Kesiapan belajar ini sering juga diilustrasikan seperti tombol Equalizer pada stereo.



2.      Minat belajar merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:                  

·         membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;

·         mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;

·         menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;

·         meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

 

3.      Profil belajar mengacu pada bagaimana cara kita sebagai individu paling baik belajar. Bagaimana lingkungan sosial budaya, lingkungan belajar, sampai pada gaya belajar yang dimiliki oleh murid.

Setelah melaksanakan pemetaan, maka guru dapat merancang pembelajaran yang mengacu pada hasil pemetaan yang telah dilakukan. Pembelajaran ini dilaksanakan dengan menerapkan strategi yang disebut strategi diferensiasi. Strategi diferensiasi meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

1.      Diferensiasi konten merupakan apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap kesiapan, minat, atau profil belajar, atau bahkan kombinasi ketiganya. Dalam diferensiasi konten inilah perlu kita pertimbangkan Equalizer yang mengukur kesiapan seorang murid. Sehingga murid tidak merasa terbebani dengan materi yang terlalu berat atau bahkan menganggap enteng karena konten yang terlalu ringan.

2.      Diferensiasi proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami pembelajaran, proses seperti apa yang akan kita lakukan, apakah kegiatan individu atau kelompok. Cara yang dapat dilakukan yaitu

a.       Kegiatan berjenjang

b.      Membuat pertanyaan pemandu yang dapat mengaktifkan sudut – sudut minat yang mampu menarik minat murid.

c.       Membuat agenda individual murid

d.      Memvariasikan waktu

e.       Mengembangkan kegiatan yang bervariasu yang mengakomodasi profil belajar

3.      Diferensiasi produk mencakup hasil kerja/unjuk kerja murid yang dapat berupa produk, karangan, video, rekaman yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran. Penugasan produk dapat digunakan untuk memperluas pemahaman murid. Melalui tiga strategi diferensiasi ini, diharapkan pembelajaran mampu memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai pembelajaran yang optimal.

    Selain strategi diferensiasi diperlukan juga lingkungan yang mendukung agar pembelajaran mampu memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai pembelajaran yang optimal seperti learning community yang komunitas anggotanya adalah pembelajar. Selain itu iklim belajar juga sangat berpengaruh seperti:

  • -          Setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik
  • -          Ruangan kelas yang dipenuhi hasil kerja murid
  • -          Setiap orang yang saling menghargai di dalam kelas
  • -          Murid yang merasa aman
  • -          Ada harapan bagi pertumbuhan
  • -          Ada keadilan dalam bentuk nyata, dsb.

Dalam filosofi Ki Hadjar Dewantara (KHD) menyebutkan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menerapkan pembelajaran yang “menghamba” pada murid yang diperhalus menjadi “berpihak pada murid’ yang artinya adalah sebagai pendidik kita wajib dan harus memperhatikan kebutuhan apa yang murid perlukan. Bagaimana kondisi mereka pun harus kita pahami. Sebagai pendidik kita harus membuat mereka merasa aman, tidak terancam, merasa terlindungi dan Bahagia ketika melaksanakan pembelajaran. Mereka bebas “merdeka” tanpa ada iming – iming ataupun ancaman yang membuat mereka terkesan “dipaksa” melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan juga dengan budaya positif yang kita terapkan, bahwa murid memahami nilai – nilai kebaikan sehingga terbentuk “keyakinan” sehingga melakukan hal – hal positif karena mereka yakin bukan karena aturan. Dengan demikian pembelajaran berdiferensiasi ini sangat erat kaitannya dan sangat sesuai dengan filosofi pendidikan KHD. Selain itu juga dalam penerapan pembelajaran juga terdapat nilai – nilai budaya positif.  Nilai, peran dan visi guru penggerak dapat diterapkan melalui pembelajaran berdiferensiasi, karena kesamaan visi yaitu berpihak pada murid. Dan melalui pembelajaran berdiferensiasi ini di kelas, kita dapat mengimplementasikan filosofi KHD, nilai dan peran guru penggerak, visi guru penggerak, dan budaya positif.

Komentar